Life Hack Akhir Tahun: Cara Gen Z Healing dari Toxic Productivity
Desember itu literally bulan yang penuh chaos. Kita semua kayak lagi lari maraton, tapi sambil bawa beban ransel isinya deadline dan pressure. Kenalin, ini Rendra, usianya 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir yang juga punya side hustle sebagai social media specialist. Buat Rendra, akhir tahun itu bukan tentang liburan, tapi tentang survival.
Kesibukan aktivitas sekolah Rendra lagi gaspol banget. Skripsi belum kelar, presentasi final project organisasi belum kelar, tapi di waktu yang sama, kesibukan pekerjaan kantor dari klien-klien side hustle-nya juga lagi peak season. Semua minta deliver konten sebelum tutup tahun. Rendra sampai merasa, tubuhnya ada di kosan, tapi otaknya udah terdistribusi ke mana-mana: setengah di kampus, setengah di laptop.
Dia lihat teman-temannya di Instagram sudah spill the tea tentang rencana healing ke Bromo atau Thailand. Ada rasa FOMO (Fear of Missing Out) yang menusuk. Rendra awalnya berpikir, libur panjang akhir tahun ini harus diisi dengan hustle lebih parah biar bisa flexing pencapaian di tahun baru. Rencana awal: tidur empat jam, sisanya gaspol proyek, biar cuannya bisa buat liburan mewah bulan depan.
Tapi, rencana itu zonk. Suatu pagi, Rendra bangun dengan badan pegal, bukan karena gym, tapi karena begadang. Dia literally menghabiskan liburan dengan mengganti hustle yang satu ke hustle yang lain. Momen memanfaatkan liburan akhir tahun Rendra jadi toxic productivity yang bikin mental health drop. Dia sadar, healing yang dia butuhkan bukanlah tiket pesawat, tapi reset total dari mindset hustle ini.
Rendra akhirnya mengambil keputusan radikal. Dia bilang ke dirinya sendiri, "Cukup. Aku butuh self-care yang autentik, bukan yang buat story." Dia pun menyusun kegiatan yang bisa mengisi akhir tahun dengan penuh semangat, tetapi dengan tujuan internal, bukan eksternal.
Membuat Boundaries Digital (The Real Detox): Ini level yang lebih jauh dari sekadar silent notification. Rendra memutuskan untuk unfollow akun-akun toxic productivity yang selalu menyuruhnya untuk never stop hustling. Dia mengubah feed Instagram-nya jadi tempat yang isinya cuma meme dan kucing. Ini penting, karena vibes di media sosial itu powerful. Kalau feed lo isinya healing palsu, lo bakal ikut capek.
Mencari Skill yang Enggak Ada Hubungannya Sama Cuan: Sebagai content creator, Rendra selalu terbebani untuk membuat konten yang engage. Di liburan, dia belajar membuat stop motion pakai barang-barang bekas yang ada di kosan. Dia melakukannya just for fun, tanpa deadline, tanpa brief klien. Effort ini mengembalikan gairah kreatifnya, karena dia akhirnya bebas berkreasi tanpa memikirkan insight atau analytics.
Kumpul Circle Inti (Deep Talk, No Phone): Rendra mengadakan malam deep talk dengan teman-teman dekatnya. Aturannya: semua HP dikumpulkan. Mereka tidak membahas skripsi atau karier, tapi spill the tea soal ketakutan, harapan, dan quarter-life crisis mereka. Kualitas koneksi yang tulus ini terasa jauh lebih melegakan daripada ratusan likes di story manapun.
Di tengah self-healing ala Gen Z ini, Ibunya Rendra tiba-tiba telepon. Ibunya cerita tentang rencana keluarganya untuk melakukan Umrah tahun depan. Ibunya menjelaskan, healing terbaik itu adalah healing jiwa. Melaksanakan Umrah di bulan Desember (atau kapan pun di akhir tahun) adalah cara paling ultimate untuk reset spiritual. Lo benar-benar dipaksa untuk meninggalkan handphone, kerjaan, dan update duniawi.
Narasi Umrah ini menarik bagi Rendra. Ia melihatnya bukan sekadar ibadah, tapi sebagai life hack untuk mencapai ketenangan batin. Ini adalah soft selling dari tujuan yang lebih besar: mendapatkan glow-up spiritual yang otentik. Rendra pun terinspirasi untuk memasukkan Umrah ke dalam bucket list jangka panjangnya. Dia mulai mencari informasi perencanaan. Mencari rincian mengenai paket umroh desember 2026 memberinya tujuan spiritual yang jelas, sebuah reward sejati yang layak didapatkan setelah melewati chaos dunia.
Ketika liburan is over, Rendra kembali ke kampus dan hustle-nya, tetapi dengan mindset yang berbeda. Dia tidak kembali dengan flexing pencapaian, tetapi dengan vibes yang lebih tenang dan boundaries yang kuat. Dia belajar bahwa effort terbaik di akhir tahun bukanlah pada seberapa banyak yang lo kerjakan, tapi seberapa baik lo mengizinkan diri lo untuk recharge dan reconnect dengan diri sendiri. Healing yang autentik, bestie, itulah life upgrade yang sesungguhnya.
0コメント